Pantang! Jangan Pakai Batik Parang untuk Pernikahan Adat Jawa, Kenapa?
Dalam adat Jawa, pernikahan bukan sekadar penyatuan dua insan, tetapi juga penyatuan dua keluarga, dua budaya, dan dua energi kehidupan. Karena itu, setiap elemen dalam prosesi adat memiliki makna mendalam — mulai dari sesajen, busana, hingga motif batik yang dikenakan. Salah satu pantangan yang paling sering disebut dalam pernikahan adat Jawa adalah larangan menggunakan batik bermotif parang untuk pengantin.
Namun, benarkah memakai batik parang bisa membawa nasib kurang baik bagi pasangan baru? Mari kita bahas sejarah, makna filosofis, dan alasan mengapa motif ini dianggap tidak pantas untuk pernikahan.
Asal-usul dan Makna Filosofis Batik Parang
Motif batik parang adalah salah satu yang tertua di Nusantara. Kata parang berasal dari “pereng” atau lereng gunung, dan motifnya berbentuk diagonal seperti huruf “S” berulang yang menyerupai ombak laut.
Motif ini pertama kali diciptakan pada mas Kerajaan Mataram oleh Panembahan Senopati, pendiri Mataram Islam. Menurut kisah, motif ini terinspirasi dari ombak yang terus menghantam batu karang — simbol semangat juang yang tak pernah padam.
Karena makna filosofinya yang kuat, batik parang dulunya hanya boleh dikenakan oleh kalangan bangsawan dan raja. Di Keraton Yogyakarta maupun Surakarta, motif ini bahkan dianggap sakral dan tidak bisa dipakai sembarangan.
Jenis-jenis Motif Parang dan Maknanya
1. Parang Rusak
Motif klasik yang menggambarkan perjuangan manusia melawan hawa nafsu dan kejahatan. Diciptakan oleh Panembahan Senopati saat bertapa di Pantai Selatan.
Filosofinya adalah: manusia yang mampu mengendalikan diri akan mencapai kebijaksanaan dan kemenangan batin.
2. Parang Barong
Motif ini lebih besar dari parang rusak dan hanya boleh dikenakan oleh raja. Diciptakan oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma.
Maknanya menggambarkan kebijaksanaan, kekuatan, dan kehati-hatian dalam bertindak — sifat yang wajib dimiliki seorang pemimpin.
3. Parang Klitik
Motif dengan ukuran lebih kecil dan lembut, melambangkan kelembutan, kesabaran, dan kebijaksanaan. Biasanya dipakai oleh putri raja atau bangsawan wanita.
4. Parang Slobog
Digunakan saat upacara pelantikan atau peresmian jabatan. Motif ini menggambarkan keteguhan dan kesabaran dalam mengemban tanggung jawab besar.
Dengan makna yang luhur dan simbol perjuangan yang kuat, mungkin muncul pertanyaan — mengapa justru motif sebagus ini dilarang dalam pernikahan adat Jawa?
Mengapa Batik Parang Dilarang untuk Pernikahan?
Dalam filosofi Jawa, pernikahan idealnya membawa keseimbangan, ketenangan, dan harmoni. Sedangkan batik parang menggambarkan perjuangan tiada henti, pertarungan batin, dan energi yang terus bergerak tanpa jeda.Bentuk diagonalnya yang miring dari atas ke bawah juga diartikan sebagai penurunan energi atau keberuntungan. Inilah mengapa masyarakat Jawa percaya bahwa motif parang tidak cocok dikenakan saat momen sakral seperti pernikahan.
Banyak sesepuh juga mengibaratkan, “urip bebrayan ojo nganggo parang, mengko dadi urip perang. Artinya, “jangan pakai batik parang dalam pernikahan, nanti hidupmu penuh pertengkaran.” Simbol ombak yang tak pernah berhenti menghantam karang memang mencerminkan semangat juang, tetapi dalam konteks pernikahan, hal itu bisa diartikan sebagai konflik yang tiada henti antara suami dan istri.
Itulah sebabnya batik parang sering dipakai oleh prajurit atau pemimpin saat menghadapi tantangan, bukan saat menyatukan dua hati.
Pengaruh Kepercayaan Ini di Zaman Modern
Meski zaman sudah berubah dan banyak pasangan muda yang memilih konsep Jawa modern dalam pernikahan, pantangan batik parang tetap banyak dihormati hingga kini. Tidak sedikit pula orang tua atau perancang busana adat yang menasihati pengantin agar menghindari motif ini di hari pernikahan mereka.
Bahkan di media sosial, sering muncul kisah viral tentang pasangan yang mengalami ujian rumah tangga dan dikaitkan dengan pemakaian batik parang saat menikah. Tentu hal itu tak bisa dibuktikan secara ilmiah, tapi dalam budaya Jawa, simbol dan titen (tanda-tanda) dipercaya membawa pesan energi tersendiri.
Filosofi Jawa selalu mengajarkan untuk hidup selaras antara lahir dan batin. Karenanya, menghormati pakem budaya dianggap sebagai bentuk nguri-uri kabudayan — menjaga warisan leluhur sambil tetap berpikiran terbuka.
Motif Batik yang Dianjurkan untuk Pernikahan
Sebagai pengganti batik parang, masyarakat Jawa memiliki berbagai motif batik yang justru dianjurkan untuk prosesi pernikahan. Motif-motif ini dipercaya membawa doa, restu, dan harapan baik untuk kehidupan rumah tangga.1. Sidomukti
Kata sido berarti “jadi” dan mukti berarti “bahagia”.
Motif ini melambangkan harapan agar pasangan pengantin hidup dalam kebahagiaan dan kemakmuran.
Biasanya digunakan oleh pengantin pria dan wanita dalam prosesi panggih atau resepsi adat.
2. Sidoasih
Maknanya “jadi penuh kasih sayang”.
Motif ini menjadi simbol kehidupan rumah tangga yang harmonis, penuh cinta, dan saling pengertian antara pasangan.
3. Sidoluhur
Berarti “jadi luhur” atau “jadi tinggi derajatnya”.
Melambangkan doa agar pasangan memiliki kehidupan yang terhormat, disegani, dan selalu menjunjung nilai-nilai kebajikan.
4. Truntum
Berasal dari kata taruntum atau bersemi kembali.
Motif ini diciptakan oleh Kanjeng Ratu Kencana, permaisuri Sunan Pakubuwono III.
Konon, ia membuat motif ini untuk menggambarkan cintanya yang tumbuh kembali kepada sang suami.
Kini, batik truntum kerap dikenakan oleh orang tua pengantin sebagai simbol restu dan cinta tanpa syarat.
5. Grompol
Berarti “berkumpul”.
Filosofinya agar segala kebahagiaan, rezeki, dan berkah berkumpul dalam kehidupan rumah tangga yang baru.
6. Semen Ageng
Motif ini menggambarkan pohon kehidupan, keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan.
Biasanya digunakan saat prosesi panggih karena melambangkan kesuburan, kemakmuran, dan kehidupan yang berkelanjutan.
7. Cakar Ayam
Sering digunakan oleh orang tua pengantin.
Maknanya menggambarkan semangat bekerja keras, tanggung jawab, dan mencari nafkah demi kesejahteraan keluarga.
Makna di Balik Pantangan: Antara Simbol dan Doa
Perlu diingat, larangan menggunakan batik parang bukan berarti motif ini buruk. Sebaliknya, batik parang tetap menjadi salah satu karya agung budaya Jawa yang penuh filosofi. Hanya saja, dalam konteks pernikahan, masyarakat memilih simbol yang membawa energi damai dan kebahagiaan, bukan perjuangan dan konflik.Jadi, jika kamu berencana menikah dengan adat Jawa, tak ada salahnya menghormati pakem leluhur. Bukan karena takut sial, melainkan karena setiap simbol dalam budaya Jawa adalah doa yang tersirat.
Dengan memilih motif yang tepat, seperti sidomukti atau sidoasih, kamu sebenarnya sedang menenun doa dan harapan baik di setiap helai kain yang dikenakan.
Kesimpulan
Larangan memakai batik parang untuk pernikahan adat Jawa bukan sekadar mitos, melainkan bagian dari filosofi hidup orang Jawa yang menjunjung harmoni dan keseimbangan. Motif parang yang menggambarkan perjuangan tiada akhir memang sangat indah, namun kurang tepat untuk momen penyatuan dua jiwa. Sebagai gantinya, pilihlah motif yang membawa energi kasih, kebahagiaan, dan kemakmuran seperti sidomukti, sidoasih, atau truntum. Dengan begitu, pernikahanmu tak hanya indah secara lahiriah, tetapi juga sarat makna batin dan doa baik dari leluhur.
Dengan begitu, pernikahanmu tak hanya indah secara lahiriah, tetapi juga sarat makna batin dan doa baik dari leluhur.