Susah Jodoh? Ini Tirakat yang Dilakukan Orang Jawa Kuno
Pernah nggak sih kamu merasa sudah berusaha membuka hati, berkenalan di aplikasi, bahkan mencoba ikut komunitas atau acara sosial, tapi tetap belum menemukan orang yang klik?
Tenang, kamu nggak sendiri. Banyak orang di era modern merasa hal yang sama — mencari jodoh terasa makin sulit. Padahal, di masa lalu pun, ketika belum ada media sosial dan semuanya masih serba sederhana, persoalan jodoh juga bukan hal mudah.
Nah, menariknya, orang Jawa kuno sudah punya cara tersendiri untuk menghadapi hal ini. Mereka meyakini bahwa setiap orang punya “energi jodoh” bawaan dari weton lahirnya — ada yang mudah bertemu jodoh, ada juga yang jalannya berliku dan perlu melakukan tirakat untuk memantaskan diri.
Apa Itu Tirakat dalam Kepercayaan Jawa?
Dalam budaya Jawa, tirakat berarti laku prihatin — usaha spiritual untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, memohon petunjuk, dan membersihkan batin dari hawa nafsu atau energi negatif.Tujuannya bukan sekadar “mendapat jodoh”, tapi agar diri menjadi lebih tenang, sabar, dan siap menerima siapa pun yang memang sudah digariskan untuk kita.
Tirakat ini bisa dilakukan dalam berbagai bentuk, seperti:
- Puasa mutih (hanya makan nasi putih dan air putih)
- Puasa ngerowot (hanya makan buah dan umbi)
- Puasa ngebleng (tidak makan, tidak tidur, dan berdiam diri)
- Semedi (meditasi dan merenung di tempat tenang)
- Ruwatan (upacara pembersihan diri dari energi negatif atau “sengkala”)
Orang Jawa percaya, dengan melakukan tirakat, kita sedang “menyelaraskan” diri dengan alam dan kehendak Tuhan. Dengan begitu, energi jodoh yang macet bisa kembali lancar.
Jodoh Menurut Kepercayaan Jawa
Dalam pandangan Jawa, jodoh tidak sesederhana “bertemu orang yang cocok.” Ada tiga jenis jodoh yang dipercaya:
1. Tidak jodoh — seseorang yang datang hanya untuk memberi pelajaran, bukan untuk hidup bersama.
2. Jodoh hidup — pasangan yang bisa bersama hingga akhir hayat, tapi belum tentu satu frekuensi spiritual.
3. Jodoh sejati — pasangan yang sejiwa, saling melengkapi secara lahir dan batin.
Makanya, ketika seseorang “susah jodoh”, orang tua zaman dulu tidak langsung menilai dari fisik atau pergaulan. Mereka lebih sering bilang, “Mungkin jodohmu masih jauh, tapi bisa didekatkan dengan laku tirakat.”
Mengapa Orang Bisa Susah Dapat Jodoh?
Ada banyak alasan, dan sebagian bisa dijelaskan secara spiritual maupun psikologis. Dalam pandangan orang Jawa:
- Ada sengkala atau energi penghalang dalam diri seseorang.
- Ada karma dari masa lalu (bisa pribadi, atau turun dari leluhur).
- Ada benturan energi weton dengan calon jodoh.
- Atau, memang Tuhan sedang menyiapkan waktu terbaik agar kita bertemu orang yang tepat.
Tapi, satu hal yang sama: orang Jawa percaya bahwa jodoh bukan hanya soal nasib, melainkan juga soal laku. Artinya, kita bisa mengusahakan — dengan niat, doa, dan perbuatan baik.
Laku Tirakat untuk Memohon Jodoh
Berikut beberapa bentuk tirakat yang dulu (dan masih) dilakukan sebagian masyarakat Jawa untuk memohon jodoh:1. Puasa dari Kamis Sore (Malam Jumat Pon) Sampai Minggu Kliwon
Ini salah satu laku populer untuk membuka jalan jodoh. Waktu ini dianggap sakral karena Kamis malam (malam Jumat Pon) dipercaya sebagai waktu spiritual ketika doa lebih mudah diijabah.Selama tirakat, seseorang bisa memilih jenis puasa:
- Mutih: hanya makan nasi putih dan air putih, tanpa garam, gula, atau lauk.
- Ngerowot: hanya makan buah, sayur rebus, atau umbi-umbian.
- Ngebleng: tidak makan, tidak tidur, tidak berbicara, hanya berdiam diri dan berdoa.
Intinya bukan menyiksa diri, tapi melatih kesabaran dan fokus batin. Setiap hari selama tirakat, seseorang berdoa dan memohon kepada Tuhan agar diberikan jodoh terbaik, bukan sekadar cepat tapi membawa keberkahan.
2. Semedi (Meditasi atau Merenung di Tempat Tenang)
Biasanya dilakukan di malam hari, antara pukul 11 malam hingga 3 pagi — saat alam sunyi dan energi spiritual paling kuat. Lakukan cukup 10-20menit. Tujuannya bukan memanggil “jodoh gaib” seperti mitos di internet, melainkan membuka kejernihan hati.Dalam semedi, seseorang duduk tenang, mengatur napas, dan fokus pada doa. Kadang ditemani dupa atau bunga setaman sebagai simbol kesucian dan ketulusan niat.
3. Ruwatan Diri
Kalau seseorang merasa jalan hidupnya sering “sial” — susah jodoh, karier mandek, rezeki seret — biasanya orang Jawa menyarankan ruwatan.Ruwatan bisa dilakukan dengan:
- Mandi kembang tujuh rupa
- Membaca doa dan mantra keselamatan
- Memberi sedekah kepada anak yatim
- Melakukan selamatan kecil di rumah
Tujuannya adalah menghapus energi buruk (sengkala) yang mungkin menutupi aura positif. Setelah ruwatan, seseorang biasanya merasa lebih ringan, tenang, dan optimis.
4. Menentukan Hari Baik (Dino Apik)
Dalam tradisi Jawa, semua hal besar — termasuk mencari jodoh dan menikah — sebaiknya dilakukan di hari baik. Hari baik ditentukan dari weton lahir masing-masing orang. Dengan hitungan neptu dan pasaran (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon), akan diketahui kapan energi seseorang sedang “kuat”.Misalnya:
- Kalau weton kamu sedang “topo” → hindari mulai hubungan baru, fokus perbaiki diri dulu.
- Kalau weton kamu “tinari” → waktu bagus untuk berkenalan atau menerima lamaran.
Bagi orang Jawa, mengetahui weton bukan berarti percaya buta, tapi lebih sebagai panduan agar langkah hidup lebih selaras dengan energi alam.
5. Laku Sedekah dan Amal
Salah satu tirakat paling dianjurkan adalah memberi tanpa pamrih. Orang Jawa percaya, “rejeki dan jodoh datang lewat pintu yang sama — pintu hati.” Kalau hatimu terbuka untuk menolong orang lain, pintu jodoh pun ikut terbuka.Sedekah bisa dalam bentuk:
- Memberi makan anak yatim
- Menyumbang untuk masjid atau panti sosial
- Menolong tetangga yang kesusahan
- Atau sekadar berbagi makanan kepada kucing/ hewan jalanan
Hal-hal kecil tapi tulus seperti ini dipercaya bisa meluruhkan energi negatif dalam diri, termasuk “penghalang jodoh”.
Makna Tirakat: Bukan Sekadar Ritual, Tapi Transformasi Diri
Kalau dilihat secara spiritual, tirakat bukan upaya magis, melainkan bentuk introspeksi. Saat kamu berpuasa, bersemedi, atau mengurangi kesenangan duniawi, kamu sedang belajar menata diri. Menariknya, banyak orang yang setelah tirakat merasa lebih tenang, bersyukur, dan berani membuka diri terhadap kesempatan baru — termasuk cinta.Dalam konteks modern, tirakat bisa diterjemahkan menjadi:
- Mengurangi ekspektasi yang berlebihan pada pasangan
- Membersihkan diri dari luka masa lalu
- Belajar menerima diri sendiri
- Menyusun niat yang benar dalam mencari pasangan
Modern tapi Tetap Berbudaya
Sekarang, mungkin kamu berpikir, “Apa masih relevan ya tirakat di zaman digital?” Jawabannya: masih, asalkan dimaknai dengan cara yang tepat.Kita bisa tetap modern tapi berbudaya. Misalnya:
- Tirakat versi sekarang bisa berupa detox digital, berhenti stalking mantan, dan fokus memperbaiki diri.
- Semedi bisa dilakukan lewat meditasi, journaling, atau refleksi diri.
- Sedekah bisa lewat donasi online atau membantu teman yang sedang kesulitan.
Penutup: Jodoh Itu Didekatkan, Bukan Dikejar
Dalam filosofi Jawa, ada ungkapan:“Jodho ora ning endi-endi, nanging ning ati sing wis siap nampani.” (Jodoh tidak berada di mana-mana, tapi di hati yang siap menerimanya.)
Jadi, kalau kamu sedang merasa sulit bertemu pasangan yang cocok, mungkin bukan karena kamu kurang menarik atau tidak pantas dicintai. Bisa jadi, Tuhan sedang memintamu menyiapkan hati, membersihkan niat, dan memperbaiki energi diri terlebih dahulu.
Dan kalau mau menambah usaha, tidak ada salahnya mencoba laku tirakat kecil — dengan niat tulus, bukan sekadar ingin cepat punya pasangan, tapi agar ketika jodoh datang, kamu sudah siap menjadi versi terbaik dari dirimu.