Kalender Jawa | Cek Weton | Hari Baik untuk Menikah | Weton Jodoh | Arti Mimpi

Google Adsense akan muncul di sini

Prosesi Selametan Ibu Hamil dan Tata Caranya dalam Budaya Jawa

Dalam budaya Jawa, hidup dianggap sebagai perjalanan spiritual yang harus dijaga dengan keseimbangan antara lahir dan batin. Setiap fase kehidupan — mulai dari kehamilan, kelahiran, hingga dewasa — disertai dengan berbagai upacara selametan sebagai wujud doa agar semua berjalan “selamet”, selamat secara lahir dan batin.

Bagi masyarakat Jawa, kehamilan bukan hanya proses biologis, tetapi juga sebuah anugerah yang sakral. Di dalam kandungan, dipercaya sudah ada roh kehidupan yang perlu dijaga dengan penuh rasa hormat. Oleh karena itu, muncul berbagai tradisi selametan selama masa kehamilan hingga bayi lahir.

Prosesi ini bukan sekadar ritual, tetapi juga bentuk gotong royong, ungkapan syukur, dan doa bersama agar ibu dan bayi dalam perlindungan Tuhan Yang Maha Esa.

Berikut penjelasan tahap demi tahap upacara ibu hamil dalam budaya Jawa beserta makna di baliknya:

1. Ngapati (Selamatan Empat Bulanan)

Ngapati berasal dari kata “papat” (empat), yaitu upacara yang dilakukan saat usia kehamilan memasuki empat bulan. Dalam kepercayaan Jawa, pada usia ini roh atau nyawa mulai ditiupkan ke janin, sehingga dianggap sebagai awal kehidupan manusia.

Tujuan utama upacara ngapati adalah mohon keselamatan bagi janin dan ibunya, serta memohon agar kelak bayi lahir dengan sifat yang baik dan membawa berkah bagi keluarganya.

Biasanya acara ini dihadiri oleh keluarga dekat dan tetangga. Ibu hamil didoakan bersama, lalu ada pembacaan doa atau ayat suci, dilanjutkan dengan pembagian tumpeng robyong dan jajanan pasar seperti apem, jenang, dan pisang raja.

Makna simbolik:

2. Tingkeban / Mitoni (Selamatan Tujuh Bulanan)

Inilah prosesi yang paling dikenal masyarakat Jawa: Tingkeban atau Mitoni, yang berasal dari kata “pitu” (tujuh). Dilakukan saat usia kehamilan tujuh bulan, saat janin sudah dianggap kuat dan siap menghadapi masa akhir kehamilan.

Upacara mitoni memiliki banyak simbol dan tata cara unik yang masih dipertahankan hingga kini.

Tata Cara Umum Mitoni

1. Siraman (mandi suci)

Calon ibu akan dimandikan dengan air dari tujuh sumber mata air yang sudah diberi bunga setaman. Air ini dipercaya membersihkan diri secara spiritual dan memberikan kesejukan bagi ibu dan bayi.

2. Busana kebaya dan kain jarik Setelah siraman, sang ibu mengenakan kain jarik bermotif batik truntum, atau sido mukti, yang mengandung doa agar rumah tangga harmonis dan bahagia.

3. Pemecahan kelapa gading

Ayah dari calon bayi biasanya akan memecahkan dua kelapa gading muda. Kelapa melambangkan kehidupan dan kesucian, sementara “gading” (warna kuning keemasan) melambangkan harapan agar bayi bersinar dan membawa kebahagiaan. <> 4. Penyuapan rujak tujuh macam buah

Ibu hamil disuapi rujak yang terdiri dari tujuh jenis buah. Jika rasa rujak terasa manis, masyarakat percaya bahwa bayinya perempuan, sedangkan jika terasa pedas-asam — bayinya laki-laki.

5. Pembagian berkat dan doa bersama

Acara ditutup dengan doa bersama dan pembagian berkat sebagai tanda syukur.

Makna spiritual:

Mitoni adalah bentuk “matur nuwun” kepada Tuhan dan alam semesta atas kehidupan yang tumbuh di dalam rahim. Selain itu, juga untuk memohon agar proses persalinan kelak berjalan lancar.

3. Mrocotò / Ndadung (Menjelang Kelahiran)

Setelah usia kehamilan mendekati waktu lahir (sekitar bulan ke-9), masyarakat Jawa biasanya mengadakan selametan mrocotò atau ndadung.

Kata mrocotò berarti “lepas dengan mudah”. Prosesi ini bertujuan memohon agar proses kelahiran berjalan lancar tanpa hambatan — agar bayi “metu mrocotò”, atau lahir dengan mudah dan selamat.

Dalam upacara ini, keluarga membuat tumpeng kecil, jenang abang-putih (merah-putih), dan pisang raja. Warna merah dan putih melambangkan darah dan air ketuban, simbol kehidupan manusia.

Selain doa dan tumpeng, biasanya juga diberikan sedekah kepada tetangga atau anak yatim, sebagai bentuk berbagi rezeki dan harapan agar segala urusan dipermudah.

4. Ndaweti (Upacara Menyambut Kelahiran)

Begitu bayi lahir, masyarakat Jawa biasanya mengadakan selametan ndaweti. Kata dawet berasal dari minuman tradisional Jawa yang terbuat dari cendol, gula merah, dan santan.

Dalam konteks selametan, ndaweti melambangkan kesejukan, rasa manis, dan kebahagiaan. Upacara ini diadakan untuk mengumumkan kabar kelahiran sekaligus bentuk rasa syukur kepada Tuhan.

Acara biasanya sederhana: keluarga mengundang tetangga, membagikan dawet, jajanan pasar, dan jenang abang-putih. Doa dipanjatkan agar bayi tumbuh sehat, dan ibu cepat pulih.

5. Brokohan (Syukuran Bayi Lahir)

Beberapa hari setelah bayi lahir, diadakan brokohan, yaitu selamatan kecil dengan tujuan memohon keselamatan bagi bayi dan ibunya.

Biasanya diadakan setelah tali pusar bayi lepas. Keluarga menyiapkan nasi tumpeng, urap sayur, ayam ingkung, dan jenang.

Makna simbolik:

Brokohan juga sering dijadikan ajang memperkenalkan bayi pertama kali kepada lingkungan sekitar, agar diterima dengan doa dan kasih sayang masyarakat.

6. Selapanan (Bayi Usia 35 Hari)

Upacara selapanan dilakukan ketika bayi berusia 35 hari (selapan). Dalam hitungan Jawa, satu selapan berarti satu putaran lengkap dari kombinasi hari dan pasaran (7 x 5).

Tradisi ini merupakan bentuk syukur karena bayi sudah melalui masa awal kehidupan. Biasanya rambut bayi akan dicukur, kuku dipotong, dan diberi nama secara resmi (jika belum).

Keluarga juga menyiapkan tumpeng, jenang, dan doa bersama. Beberapa daerah menambahkan prosesi kecil seperti ruwatan bayi dengan air bunga, untuk menolak bala dan menjaga bayi dari gangguan halus.

Makna spiritual:

Selapanan dianggap momen penting karena bayi sudah “dikenalkan” sepenuhnya kepada dunia dan siap melanjutkan perjalanan hidupnya di bawah lindungan Tuhan.

7. Tedhak Siten (Bayi Belajar Menapak Tanah)

Prosesi ini merupakan kelanjutan dari selapanan, dilakukan saat bayi mulai belajar berjalan atau menapak tanah untuk pertama kali. Dalam budaya Jawa disebut Tédhak Siten (menapak tanah).

Maknanya sangat dalam: bayi dianggap sudah siap berinteraksi dengan dunia nyata, meninggalkan masa “digendong terus” menuju fase baru kemandirian.

Tata cara Tédhak Siten:

1. Bayi diturunkan ke tanah yang ditaburi bunga tujuh rupa.

Ini simbol penyucian dan doa agar langkah bayi membawa keberkahan.

2. Bayi naik tangga dari tebu wulung (tebu ungu).

Melambangkan hidup yang manis, penuh perjuangan, dan kematangan. 3. Bayi dimasukkan ke dalam kurungan ayam berisi barang-barang simbolik.

Ada buku, uang, alat tulis, alat musik, dan sebagainya. Barang yang dipilih bayi dipercaya menggambarkan minat atau masa depannya. 4. Bayi berjalan di atas jadah dan uborampe makanan.

Menandakan langkah awal kehidupan yang penuh harapan dan doa.

Tédhak Siten bukan hanya prosesi budaya, tapi juga momen keluarga yang penuh makna — doa agar anak kelak tumbuh kuat, tangguh, dan bijaksana.

Makna Filosofis di Balik Semua Prosesi

Seluruh tahapan selametan selama kehamilan hingga bayi lahir menggambarkan konsep harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan. Dalam falsafah Jawa, manusia harus selalu “eling lan waspada” — sadar akan asal-usulnya dan menjaga keseimbangan dalam hidup.

Setiap prosesi menjadi sarana:

Kesimpulan

Upacara kehamilan dalam budaya Jawa bukan sekadar tradisi turun-temurun. Di balik setiap bunga, tumpeng, dan doa, tersimpan nilai luhur: rasa syukur, doa keselamatan, serta harapan agar kehidupan berjalan penuh berkah.

Bagi generasi muda, melestarikan tradisi ini bukan berarti menolak modernitas. Justru, dengan memahami maknanya, kita bisa menjaga akar budaya sambil tetap berjalan maju — karena dalam setiap “selametan”, tersimpan doa tulus agar kita semua selamet dalam setiap fase kehidupan.

Google Adsense akan muncul di sini

📅 Weton Hari Ini

Tanggal hari ini: 01 December 2025

Hari: Senin (Neptu: 4)

Pasaran: Pahing (Neptu: 9)

Weton lengkap: Senin Pahing

Total Neptu: 13


Penjelasan singkat jika lahir pada weton tersebut

Watak:

Memiliki 'Lakuning Lintang' (berjalannya bintang). Disiplin, tegas, dan pekerja keras. Wataknya tahan banting dan tidak mudah menyerah. Kuat dalam pendirian, namun cenderung kaku dan kurang fleksibel.

Rejeki:

Kuat dan meningkat seiring usia. Rejeki datang dari ketekunan dan disiplin kerja keras.

*Data mengenai watak dan rejeki ini telah kami olah dan padukan dari referensi utama primbon Jawa, yaitu Serat Pawukon dan Serat Primbon Betaljemur Adammakna.

Google Adsense akan muncul di sini
Weton Jawa: Arti, Cara Hitung, dan Fungsinya dalam Primbon Jawa
Weton Jodoh: Cari Tahu Kecocokanmu dan Pasangan Menurut Primbon Jawa
Pantang! Jangan Pakai Batik Parang untuk Pernikahan Adat Jawa, Kenapa?
Susah Jodoh? Ini Tirakat yang Dilakukan Orang Jawa Kuno
Prosesi Selametan Ibu Hamil dan Tata Caranya dalam Budaya Jawa
Benarkah dan Perlukah Ganti Nama Supaya Bisa Buang Sial?
Hati-hati! Ini Arti Weton Jodoh yang Rawan Konflik/ Perselingkuhan (Menurut Primbon Jawa)
Arti dan Makna “Suro” dalam Budaya Jawa dan Pantangannya
Kejawen dan Paguyuban Penghayat Kepercayaan: Spiritualitas Jawa yang Tetap Hidup
Pengalaman Spiritual Kejawen: Perjalanan Laku Kebatinan sebagai Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan YME
Google Adsense akan muncul di sini

About | Privacy Policy | Terms & Conditions | Disclaimer | Contact